Rabu, 09 November 2016

GALERI PUISI


Selamat Datang di Galeri Puisiku :)

Pecinta Sastra? Penikmat Sastra? Pecandu Sastra Atau cuma nugas aja? :v
Enjoyin aja...
Kepo? Jangan lupa Follow dulu @mayarismayanti_ dan @maya.rsmynt

Kunjugi juga puisi, drama, cerpen aku di blogger yang lain. Tengkyuhh

Yukk mampir :-D


  PAHIT KOPI ATAU HIDUP

Mereka ingin manisnya hidup
Tanpa ingin berjumpa
Ataupun mengunjungi pahitnya kenyataan
Begitupun aku
   Secangkir kopi kunikmati malam ini
   Tanpa gula dan sakarin
   Angin singgah menerpa
   Seolah membawa dosa
   Terpejam jendela mataku sekejap
   Ku sruput kopi hitamku
Terbuka mengayun mata ini
Dan aku sadar
Hanya kopi yang pahitnya bisa dinikmati


KERTAS TANPA TINTA

Kau buang jauh otakku
Hingga kertas dan tinta
Tak lagi berpadu
Tak satu hatipun kulewati
Tanpa mencari sarafku
   Ingin kesatukan kembali
   Tinta yang lenyap diglobalisasi
   Yang menjauhi secarik kertas ini
   Jika aku terhapus didunia ini
   Apakah tinta dan kertas ini
   Lenyap jua bersamaku
Tidak...
Mereka akan membiarkanku pergi sendiri
Mereka akan mencari tuan yang baru
Tidak ada sastra hari ini


KUPAS SUNYI

Kupaslah aku
Bersihkan aku
Bawalah aku pergi
Aku tak ingin hidup disini
Begitupun engkau
   Kau yang membaca untaian kata ini
   Aku yang ada
   Dimana saja
   Dan kapan saja
   Tanpa diundang
   Mereka tak ingin dekat denganku
Siapakah aku?
Dosa apa aku?
Akulah kesunyian
Yang menolak untuk dikupas


SUSUNAN KATA UNTUK SAHABAT

Pada bait puisiku ini
Kutuang kata demi kata
Pada secangkir kertas ukiran
Kuwarnai dengan jutaan sastra
Dalam satu pena
   Jika sastra adalah oksigenku
   Maka kau adalah kacamataku
   Mengapa?
   Sebab kau
   Yang memperlihatkanku
   Membuka jendela mataku
   Menyapu korden pandangku
   Tentang arti persahabatan
Kau tampak lebih manis hari ini
Waktu dimana beranjak usiamu
Aku suka dengan hari ini
Hari dimana
Kau hirup aroma bahagiamu
Kau tak bisa menemukan hari ini
Pada hari esok maupun lusa
Tunggulah aku
   Kau adalah kendaraan
   Yang bisa bethenti
   Kapan saja
   Dimana saja
   Begitupun aku,dia dan mereka
   Hanya Tuhan yang tau itu
   Selamat Menghirup Hari Bahagiamu sahabatku
   Semog Tuhan memberkatimu


TIDUR DI MIMPI

Dentang lonceng betbisik dimalamku
Menyadarkanku
Aku belum pernah
Sejatuh ini pada cinta
Ia mengiringiku hingga lelap malam
Celaka....
   Tenggelamlah aku disunyi itu
   Kau berkunjung di malamku
   Sempat terlintas
   Kenyataan tak seindah ini
   Dan mimpi, tolong...
   Jangan bangunkan aku sesegera waktu
   Biarkan aku hanyut dalam deru waktu
   Tujuh jam lamanya
   Kau singgah disini
   Hingga ku terbangun
   Dan kehilangan semuanya
Ingin kutanya padamu
Cukup satu kalimat untuk malam ini
Apakah aku semalam tidur di mimpimu jua?


LUKISAN DI TELAPAK TANGAN TENTANG HARI ESOK


Lihatlah
Goresaan tinta pada hari lalu
Kini telah menjadi senja berlalu
Kau bawa kemana coretan kisahku selama masa itu?
Aku tak memintanya kembali pada harapan
Aku hanya berharap butiran  dan tetesan tinta ini
Menjadikan rangkaian dunia senja pada hari nanti

Lihatlah
Lukisan pada telapak tanganku ini
Berisi banyak goresan masa lalu
Coretan masa kini
Dan harapan di masa depan

Jika seandainya
Hari esok nafasku tak berkumandang lagi
Mata ini tak mampu lagi melihat sastra dunia baru
Tangan ini tak lagi menggoreskan cerita kembali
Jangan berhenti berharap

Karna lukisan lukisan atas goresan tangan tangan kecilmu
Adalah harta sastra yang penyanjung dunia



GORESAN PENA

Jika senja yang telah kau beri tanda sudah tiada
Berikan aku segaris coretan pena
Setidaknya aku pernah ada diantara penundaan yang lama

Lihat
Aku punya sebuah cerita
Yang berisi jutaan cinta
Dan aku punya sebuah cinta
Yang berisi ribuan cerita

Aku tak menuntut adanya persamaan
Jika perbedaan bukanlah persamaan yang dirilis
Maka aku juga bukan rasa yang pernah ada
Jangan beri aku lilin kecil berapi senja
Gumpalan gejolak panasnya api pun akan kudapat pada nantinya

Bukankah aku juga bukan manusia sebaik baiknya manusia?






Tidak ada komentar:

Posting Komentar